Bu Aam Bukan Kartini
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI
Gelombang : 28
Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh.
Salam sehat dan bahagia sahabat Periang (Pembelajar Riang).
Tahukah kamu siapa Kartini? Yups, siapa yang tidak tahu Kartini. Hampir semua orang Indonesia tahu siapa Kartini, tak terkecuali aku. Kisahnya dengan mudah ditemukan melalui pencarian google, lagu mengenai sosok Kartini dihapal dengan fasih dan bahkan 21 April yang merupakan hari lahirnya pun tiap tahun diperingati sebagai hari Kartini. Kartini adalah sosok perempuan tangguh, berjuang melalui tulisan dan pendidikan, berupaya keras memperjuangkan pendidikan kaum perempuan Indonesia pada zamannya. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan semangat pantang menyerah mengantarkan Kartini berhasil membangun sekolah perempuan pertama di Indonesia. Seandainya Kartini saat itu menyerah dengan cita-cita luhurnya, mungkinkah hari ini aku, kamu, sahabat Periang dan perempuan Indonesia lainnya akan mengenyam pendidikan seperti sekarang ini? Wallohu a'lam.
Namun tulisan ini bukan tentang Kartini, tulisan ini tentang seorang perempuan tangguh lainnya, bernama Aam Nurhasanah yang akrab dipanggil Bu Aam. Sepintas melihat foto profilnya, aku mendapat kesan, beliau adalah sosok periang (periang dalam arti sebenarnya bukan akronim dari pembelajar riang ya,,, 😊), karena hampir di setiap fotonya tersenyum riang. Eits.., tapi jangan tanya soal prestasi, tak akan cukup sepintas untuk dibaca, list-nya panjang nian. Nah, bagi sahabat Periang yang penasaran dengan profil Bu Aam, intip blognya, yuk!
Dan malam ini, dengan dimoderatori oleh Ibu Arofiah Afifi, Ibu Aam Nurhasanah, sosok perempuan tangguh itu menemani, memotivasi dan menginspirasi kami dalam kelas belajar menulis yang diselenggarakan oleh KBMN PGRI.
Kelas dibuka dengan apik oleh Ibu Arofiah Afifi. Bu Aam pun memulai kelas dengan pertanyaan "Apa alasan Bapak/Ibu bergabung di Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN)?". Dari pertanyaan tersebut Bu Aam ingin membawa kami menyadari potensi sendiri. Menurut Bu Aam, cara paling gampang untuk menggali potensi adalah memulai dari apa yang disukai. Jika mengikuti KBMN dengan alasan suka menulis atau berminat belajar menulis, maka menulislah. Insyaalloh, apa yang dilakukan dengan hati akan berbuah prestasi. Namun seringkali yang jadi kendala bagi penulis pemula untuk mulai menulis adalah takut tulisan jelek, takut dibuli, takut tulisan tidak sempurna dan keraguan dalam mempublkasikan tulisan sehingga tulisan hanya disimpan dalam draft dan membiarkan ide menguap begitu saja. Padahal seperti yang ibu Kanjeng sampaikan pada pertemuan sebelumnya "Jangan takut menulis, karena setiap tulisan memiliki takdirnya". Jadi, menulislah! Siapa tau tulisan yang kita buat menemui takdir baik.
Sepanjang waktu kelas belajar, Bu Aam memotivasi kami dengan deretan prestasi, buah dari menggali potensi menulis beliau. Hanya dalam setahun, beliau berhasil menulis empat buku solo, berderet antologi, menjadi kurator, editor, blogger dll. Semuanya itu tentu tidak diperoleh dengan begitu saja. Untuk semakin menggali potensinya Bu Aam rajin mengikuti berbagai kompetisi dan tantangan menulis. Bu Aam adalah tipikal wanita tangguh yang tidak mudah menyerah hanya karena gagal, kurang berhasil di KBMN 8 tidak membuat patah arang, Bu Aam pun sukses melaju di KBMN 12.
"Al ilmu bila amalin kassyajari bila tsamarin"
(Ilmu tanpa diamalkan laksana pohon tidak berbuah)

Luar biasa.....
BalasHapusTetap semangat bu guru....
Ayo semangat juga bu..
HapusNah enaaak ni bu...👍🦾
BalasHapusTerima kasih. Kan saya belajar dari Bapak.. hehe..
HapusKreeen, semangat terus!
BalasHapusTerima kasih. Semangat juga Bu
BalasHapusAlhamdulillah postinganmu menggugah semangatku mudah-mudahan di KBM ini melahirkan Kartini Kartuni yang baru sesuai dengan jamannya
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusTerima kasih. Semangat juga...
HapusTerima kasih motivsinya
BalasHapusEnak dibaca, good resume
BalasHapusSemangat
BalasHapusTerima kasih. Semangat juga..
Hapus