Writer's Block vs Perspektif Andrea Hirata si Laskar Pelangi

 Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI

Gelombang : 28

Resume Ke : 7
Hari,Tanggal : Senin, 23 Januari 2023
Tema : Mengatasi Writer's Block
Narasumber : Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr.
Moderator : Raliyanti, S.Sos., M.Pd.

 

Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh. 

Salam sehat dan bahagia sahabat Periang (Pembelajar Riang).  

Pernahkah sahabat Pering merasa mati kutu dalam menulis, buntu ide, tidak tahu harus menulis apa, atau bahkan mungkin sedang mengalami kondisi tersebut? Yups, ulasan berikut cocok buat dijadikan referensi. Simak, yuk!

Pertemuan KBMN malam ini mengangkat tema "Writer's Block" dan ini merupakan pertemuan yang ke 7. Dengan dibimbing oleh dua perempuan cantik dan berprestasi yaitu Ibu Raliyanti, S.Sos., M.Pd. sebagai moderator dan Ibu Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr. selaku narasumber, kelas belajar berjalan tertib dan seru. Narasumber kali ini masih muda tapi memiliki segudang prestasi. Yuk, intip profilnya! 

Untuk membuka sesi materi, Bu Ditta mengajak peserta menyamakan persepsi mengenai menulis, bahwasanya menulis adalah kata kerja yang hasilnya bisa sangat beragam. Oleh karena itu tak hanya novelis, cerpenis, jurnalis atau blogger yang dikategorikan sebagai penulis, namun copy writer, content writer, script writer, gost writer, technical writer dan UX writer (Jika penasaran bedanya apa, searching di google, yuk!) juga termasuk dalam kategori penulis.

Kelas pun berlanjut dengan pemaparan Bu Ditta mengenai apa itu writer's block, apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya? 

Apa Itu Writer's block?

Istilah "writer's block" sebenarnya sudah ada sejak tahun 1940-an. Diperkenalkan pertama kali oleh Edmund Bergler, seorang psikoanalis di Amerika. 

Writer's block merupakan keadaan saat penulis kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisnnya. (Wikipedia). Sederhananya, writer's block adalah kondisi dimana kita mengalami kebuntuan menulis. Tak lagi produktif atau berkurang kemampuan menulisnya. 

Writer's block adalah virus yang bisa menginfeksi siapa saja, tak peduli tua atau muda, profesional atau bukan, writer's block bisa menyerang siapa pun yang masuk dalam dunia kepenulisan. Ibarat penyakit, tentu akan lebih mudah disembuhkan bila kita mengetahui faktor penyebabnya. Oleh karena itu, penting bagi seorang penulis untuk mengenali penyebab writer's block dan cara mengatasinya.

Penyebab Writer's Block

Beberapa hal yang biasanya menjadi penyebab writer's block antara lain:
  • Mencoba metode atau topik baru dalam menulis. Mencoba metode atau topik baru dalam menulis sebenarnya bisa menjadi penyebab sekaligus obat untuk WB (Writer's Block). Misal ketika jadi penyebab, orang yang senang menulis cerpen atau puisi. Kemudian tiba-tiba harus menulis KTI yang tentu saja memiliki struktur dan metode penulisan yang berbeda. Bila tak lekas beradaptasi, bisa jadi malah menjadi  WB. Lalu bagaimana ini bisa menjadi salah satu obat WB? Jawabannya akan berkaitan dengan faktor penyebab WB yang kedua dan ketiga.
  • StressDalam Kamus Psikologi, stres diartikan sebagai ketegangan, tekanan, tekanan batin, tegangan dan konflik.
  • Lelah fisik/mental akibat aktivitas harian yang padat juga dapat memicu stress. Pada akhirnya, jangankan menulis, kita bisa merasa jenuh dan suntuk. Dan akhirnya bisa terkena WB.
  • Terlalu perfeksionis. Sebagai contoh,  semasa sekolah, narasumber nekat menulis sebuah diary dalam bahasa Inggris walaupun dengan grammer dan kosakata terbatas. Jika seandainya pada saat itu, narasumber bersikeras menggunakan grammer yang benar, bisa jadi dia tidak jadi menulis diary.

Cara Mengatasi Writer's Block

Beberapa alternatif yang bisa kita lakukan untuk mengatasi wrter's block antara lain:
  • Mencoba hal baru dalam menulis bisa jadi alternatif solusi. Mempelajari hal-hal baru yang berbeda dengan sebelumnya pasti menyenangkan.
  • Melakukan hal yang disukai untuk refreshing.
  • Membaca buku-buku ringan untuk cemilan otak. Biar bagaimanapun, WB terjadi karena kita belum bisa mengekspresikan ide dalam bentuk kata. Dengan membaca, kita bisa menambah kosa kata. Pada akhirnya, jika diteruskan insya Allah bisa sekaligus mengatasi WB.
  • Menulis bebas atau free writing. Menulis bebas merupakan kondisi dimana saat menulis, kita tidak memikirkan salah eja, salah ketik, koherensi dsb. Bukankah tulisan yang buruk jauh lebih baik daripada tulisan yang tidak selesai?

Perspektif Andrea Hirata

Pembahasan tentang writer block sangat menarik perhatian saya. Karena itu, saya melakukan penelusuran lebih lanjut mengenai writer's block. Lagkah saya terhenti pada sebuah artikel di sebuah blog yang memasang judul "Andrea Hirata Tidak Percaya Writer's Block. Kenapa Kita Tidak?". Waow. Judul yang sukses menggelitik rasa igin tahu. Penasaran artikelnya seperti apa ? Kepoin di sini ya, https://indahjulianti.com/andrea-hirata-tidak-percaya-writers-block/

Siapa yang tidak kenal Andrea Hirata? Seorang penulis berbakat yang namanya melejit bersama buku yang ditulisnya "Laskar Pelangi", buku best seller yang kemudian diadopsi menjadi film dengan judul yang sama. 

Hal yang mengejutkan saya adalah pernyataan si "Laskar Pelangi" ini yang dengan gamblang menyatakan ketidakpercayaan terhadap writer's block. 

"Kalau saya itu, sudah 15 tahun di dunia buku, menulis, apa yang dikatakan oleh penulis, jangan langsung kita percayai karena itu subyektif. Kita harus menemukan sendiri gaya menulis yang kita sukai. Saya tidak mengerti apa itu writer's block. Tidak percaya akan writer's block. Bukan karena saya penulis terkenal atau sudah ahli dalam menulis. Pendekatan manusia berbeda. Bagi saya, menulis itu seperti memasukkan gajah ke dalam lubang jarum. Gajah yang besar, lubang jarum itu nyaris tak terlihat karena kecil atau tipisnya. Yakin bisa masuk? Harus yakin dan percaya" ungkap Andrea Hirata. 

"Kalau kita sudah bisa mengkondisikan diri untuk menulis dalam kondisi apa pun, menulis itu tidak ada writer's blocknya. Bagaimana caranya? Sebelum menulis, saya menciptakan perspektif (sudut pandang). Bangun dulu perspektifnya, kita ciptakan secara detail, baru setelah  itu duduk menulis. Bagaimana menciptakan perspektif? Berpikirlah secara kontekstual (kontekstual, berhubungan dengan konteks kehidupan nyata). Tulisan itu akan berhenti sesuai dengan perspektif kita yang kontekstual. Dan itu tidak membuat kita buntu menulis, tidak kekurangan ide juga tidak kehabisan kata-kata yang akan dituliskan" lanjutnya. 

Jadi sahabat Periang, entah itu kalian percaya atau tidak dengan writer's block, bukanlah hal yang terlalu penting. Menulis sajalah, tulis apa yang ingin kalian tulis, jika suatu saat kalian mengalami kebuntuan, maka trik dari Andrea Hirata patut dicoba "Bangun perspektif secara detail dan mulailah menulis sampai selesai".

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tekhnik Promosi Buku yang Mumpuni

Guru Blogger vs Hegemoni sang Gubernur

Majalah Suara Guru, Eksistensi Guru Indonesia