Writing is Easy, Katanya
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI
Gelombang : 28
Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh.
Salam sehat dan bahagia sahabat Periang (Pembelajar Riang).
Pertemuan malam ini adalah pertemuan ke 9 KBMN PGRI Gelombang 28. Dengan tema "Menulis Itu Mudah", dimoderatori oleh Ibu Lely Suryani, S.Pd., SD. dan narasumber Prof. Dr. Ngainun Naim, pertemuan KBMN malam ini terasa mengasyikkan. Ibu Lely sukses membawa kelas menjadi asyik tapi tetap fokus belajar. Pun dengan narasumber Prof. Ngainum Naim yang membimbing kelas belajar dengan gaya santai tapi penuh makna. Penasaran dengan profil Prof. Ngainun dan Bu Lely, googling, yuk!
Kembali ke lirik puisi di atas, bait pertama puisi di atas adalah manifestasi dari kesangsian terhadap kondisi Indonesia yang digambarkan sebagai negara yang makmur, tapi faktanya kemakmuran belum merata, hanya segelintir orang saja yang menikmati kemakmuran itu. Begitu pun dengan dua baris terakhir puisi, merupakan manifestasi kesangsian atas "Writing is easy". Benarkah menulis itu mudah? Jika memang menulis itu mudah, mengapa kadang orang, tidak peduli amatir atau profesional bisa mengalami writer's block? Yuk, simak ulasan berikut! (Ulasan dibuat dengan perspektif saya yang awam, jadi jika ada yang kurang berkenan, maafkeun π)
Coba kita telisik ulang! Prof. Ngainun mengatakan bahwa kunci menulis mudah adalah tulis hal-hal sederhana yang kita alami. Perlu saya garis bawahi di sini adalah hal sederhana dan dialami, berarti jika bukan hal sederhana yang dialami langsung oleh penulis, mungkin "Writing is not easy", butuh riset, menggali ide, bahkan terjun langsung pada situasi yang digambarkan. Bisa saja hal tersebut membutuhkan waktu yang lama dan dengan berbagai tantangan. Lihat saja penulis sekaliber Andrea Hirata bahkan membutuhkan waktu 2 tahun untuk riset buku "Guru Aini" atau tengok saja kebiasaan aneh para penulis dunia dalam mencari inspirasi, misal saja Dan Brown "Davinci Code" bahkan harus menggantung terbalik untuk bisa rileks dan berkonsentrasi.
Nah, sampai di sini apakah "Writing is easy"? Relatif, tergantung tema yang diangkat dan tergantung penulisnya. Untuk pemula seperti saya, hatta pun saya menulis hal-hal sederhana yang saya alami, tetap saja saya agak kesulitan memilih kata dan merangkainya menjadi kalimat yang enak dibaca. Tapi, bahkan batu pun jika ditetesi air terus menerus akan berlubang, apatah lagi kita sebagai manusia yang dianugerahi akal, dengan latihan terus menerus, lama kelamaan kita pasti akan semahir Prof. Ngainun.
Kunci kedua dari "Writing is easy" versi Prof Ngainun "Jangan menulis sambil dibaca lalu diedit karena bisa menjadi hambatan psikologis". Kunci kedua ini dalam perspektif saya bersifat subyektif. Manusia bekerja dengan cara yang berbeda-beda, sehingga dampak psikologis dari setiap tindakan pun akan berbeda. Tidak semua orang tertawa saat melihat hal yang kita anggap lucu, bisa jadi lucu buat kita tapi tidak buat orang lain. Untuk saya sendiri, mungkin karena tidak semahir Prof. Ngainun, saya harus menulis, membaca berulang-ulang sambil mengedit untuk memastikan bahwa setiap kata, kalimat atau alinea yang saya tulis berkesinambungan satu dengan lainnya, dan saat membaca ulang dan mengedit itulah baru muncul ide kalimat lanjutannya.
Masih lanjut kunci kedua, Prof. Ngainun menyampaikan "Jika sudah selesai menulis, tinggalkan, endapkan, simpan di komputer, tunggu suasana psikologis yang berbeda untuk membaca kembali tulisan tersebut". Pendapat ini terkesan agak kontradiktif dengan apa yang disampaikan pak Dedi pada pertemuan 8 "Jika sudah selesai menulis, jangan ragu, segera upload dan publish". Jadi, yang benar yang mana? Tentu dua-duanya tidak salah karena beliau berdua berpendapat berdasarkan pengalamannya masing-masing. Berbeda adalah hal yang wajar, setiap orang bekerja dengan caranya sendiri. Begitu pula seorang penulis, pasti punya jalan dan gayanya sendiri.
Jadi sahabat Periang, "Writing is easy or not" tidaklah terlalu penting untuk diperdebatkan, karena hal itu bersifat relatif dan subyektif. So, menulis sajalah, jangan banyak beralasan, sibuklah, sulitlah, tidak ada inspirasilah, dan alasan lainnya yang merefleksikan keengganan. Tulis sajalah apa pun, kapan pun dan dimana pun kita ingin. Tak perlu terpaku pada banyak rumus. Seiring waktu kita akan menemukan jalan dan style sendiri.

.jpeg)
.jpeg)
Terus menulis, semangat
BalasHapusSemangat juga Bu...
HapusSip Keren resumenya π
BalasHapusTrim's
HapusJust Write It
BalasHapusI think so
HapusNah jdi semakin kaya,ada puisi yg di tanbah lgi.mantaap bu..
BalasHapusPantun udah, puisi udah, kata bijak udah, pepatah udah... Semangat mik,..
HapusKreeen, semangat!
BalasHapusTerima kasih. Semangat juga Bu..
HapusKeren, bisa memadukan pendapat dari dua narasumber, lalu dikaitkan dengan realita yang ada......lanjutkan eksekusi menurut gaya/pola yang sesuai keinginan....Semangat menulis!!
BalasHapusTerima kasih, Bun. Tetap semangat jg..
HapusMantap... Lanjutkan
BalasHapusmemang benar its easy
BalasHapusMantabπ
BalasHapusSemangat...
BalasHapus