Writing is My Passion
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI
Gelombang : 28
Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh.
Salam sehat dan bahagia sahabat Periang (Pembelajar Riang).
Dengan gerakan perlahan jempolku men-Scroll perlahan demi perlahan chat-chat di WAG KBMN PGRI 28. Yach, malam ini adalah pertemuan kedua kelas belajar menulis oleh KBMN PGRI yang saya ikuti. Sambil merebahkan badan dan ditemani rasa kantuk, akibat penat seharian berjibaku dengan tugas sebagai pendidik dan ibu dari dua gadis kecil penuh pesona (maafkeun, jiwa narsis emak-emak susah dikendalikan kalo sudah menyangkut anak-anaknya). Walau kantuk sulit diajak berdamai, tapi kelas ini terlalu sayang untuk dilewatkan.
Malam ini luar biasa, kata-kata puitis dari Ibu Widya sang moderator bertebaran memenuhi chat group, pun kata-kata apik penuh makna dari narasumber Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. yang akrab dipanggil Ibu Kanjeng dan mendapat julukan ratu antologi saking produktifnya membuat antologi. Salam sehat Ibu Kanjeng sang ratu antologi.
Pesan dari kelas belajar pada malam ini yang terngiang di pikiranku bahkan sampai terbawa tidur (maafkan diriku sahabat periang yang gak sengaja ketiduran sebelum kelas berakhir) adalah "Jadikan menulis sebagai passion dan wahana healing"
Passion? Healing?
Passion atau dalam bahasa sanskerta "renjana" merupakan gairah, rindu, hasrat besar atau keinginan yang kuat.
Seseorang yang menjadikan menulis sebagai passion, giat menulisnya tidak akan padam, karena menulis sudah menjadi kebutuhan bukan beban. Jika tidak menulis hati tak tenang seperti pecinta yang merindukan kekasihnya. Lebih sederhananya Ibu Kanjeng membandingkan hobi dan passion, hobi bisa ditahan bila kondisi tidak memungkinkan sedangkan passion seperti kebelet BAB, tak tertahan harus segera dibuang agar plong. Hihi... Adakah sahabat periang yang seperti itu?
Saya jelas belum sampai ke situ, tapi beberapa orang mungkin sudah. Ibu Kanjeng sang ratu antologi, Om Jay yang menulis blog bahkan mengalahkan rutinitas makan 3 kali sehari atau Pak Dail dan Bu Aam yang sudah menulis 50 buku dalam setahun.
Bagaimana dengan menulis sebagai wahana healing? Sebagai manusia tentu tidak lepas dari masalah, selalu saja ada hal-hal mulai upil yang sipil sampai hal yang besar menggurita yang kita cap sebagai masalah. Nah, di sinilah kita perlu healing melalui menulis. Dalam tulisan kita bisa curhat dan bermunajat kepada yang Maha Kuasa. Prihal tulisan tersebut mau dimusnahkan, diabadikan atau dipublikasikan, terserah kepada niatan kita masing-masing.
Mengapa menulis menjadi passion yang menyenangkan? Ibu kanjeng memaparkan, kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir. Di samping itu, hingga hari ini profesi sebagai penulis sangat dihormati dan dihargai secara sosial. Seseorang yang berprofesi sebagai penulis apalagi bisa menerbitkan buku akan berimej intelek, cerdas dan dalam strata sosial memiliki posisi yang tinggi, dan sebagai bonusnya tentunya menambah pundi-pundi rupiah dari reward menulis maupun sebagai narasumber di acara-acara bertema kepenulisan.
Tapi, walaupun profesi penulis begitu menggoda, selalu saja ada alasan orang-orang untuk tidak mulai menulis, mulai dari merasa tidak bakat menulis, tidak memiliki waktu, tidak memiliki ide, tidak suka menulis sampai alasan tidak mau dikritik. Alasan-alasan yang sebenarnya bisa digerus jika ada kemauan memulai, belajar dan berlatih terus menerus.
Untuk menjadikan menulis menjadi passion tentunya bukan hal yang tidak mungkin, tapi juga bukan hal yang diperoleh secara serampangan. Butuh latihan terus menerus, penuh tekad dan resilliens (ketangguhan). Tapi seperti yang disampaikan Ibu Kanjeng, jangan takut menulis karena setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri. Siapa tau tulisan yang kita buat hari ini menemui takdir baiknya dan kita dapat menjadi bagian dari orang-orang yang dengan lantang meneriakkan,
"Writing is my passion"

Semangat, b gru..
BalasHapusSemangat juga
HapusLengkapnya.....semangat bu
BalasHapusKoreksi sedikit..gunakan huruf besar pada kata - kata yang semestinya menggunakan huruf besar..
BalasHapusTerima kasih sarannya, ntr ta coba periksa periksa lagi
HapusHobi dan passion ternyata ad hubunganx dg BAB ya bu..hehee.semangaat bu..
BalasHapusHehe.. semangat juga pak guru
HapusMantap Bu dan tetap semangat
BalasHapusSemangat jg Bu
HapusLuar biasa,superrrr sekali,
BalasHapusTulisan yang penuh makna dan menginspirasi....
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmantap
BalasHapussilakan mampir di blog saya
https://gutaminingsaida.blogspot.com/2023/01/gali-potensimu-ciptakan-karyamu.html
Wuih...bagus resumenya
BalasHapusSilakan kunjungi tulisan saya di :
https://ragungps.blogspot.com/2023/01/menjadi-saksi-aneka-prestasi-literasi.html
Mantap artikelnya, semangat bund
BalasHapusMantap bu
BalasHapusGood writing. Mantabb
BalasHapusMantap..jangan lupa mampir ke blog aku ya
BalasHapus