Diksi, I'm Falling in Love

 

Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI

Gelombang : 28
Resume Ke : 18
Hari,Tanggal : Jum'at, 17 Februari 2023
Tema : Diksi dan Seni Bahasa
Narasumber : Maydearly
Moderator : Widya Arema


Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh. 

Salam sehat dan bahagia sahabat Periang (Pembelajar Riang).  

"Jika engkau menusuk kami, apakah kami tidak berdarah? Jika engkau menggelitik kami, apakah kami tidak tertawa? Jika engkau meracun kami, apakah kami tidak mati? Dan jika engkau berbuat salah terhadap kami, apakah kami tidak harus membalas dendam?" (Willian Shakesphere)

"Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tak mengambil apa-apa, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tak memiliki ataupun dimiliki karena cinta telah cukup untuk cinta" (Kahlil Gibran)

"Jangan rindu. Ini berat. Kau tak akan kuat. 
Biar aku saja" (Dilan 1990, Pidi Baiq)

Dihujani diksi begini, siapa yang gak meleyot? Aku pun mabuk berat, bukan mabuk sembarang mabuk, tapi mabuk diksi. Itulah kekuatan sebuah diksi. Diksi yang tepat akan membawamu terbang di antara gemintang, mengarungi samudera tak bertepi, tenggelam dalam berjuta rasa atau bahkan kelu dalam takzim. 

Pertemuan kali ini mengangkat tema "Diksi dan Seni Bahasa". Dari awal pertemuan chat WAG diinvasi diksi-diksi dari duo pengisi kelas belajar malam ini, Ibu Widya Arema selaku moderator dan Ibu Maydearly sebagai narasumber.

"Saya mengenalnya sebagai narasumber. Sedangkan saya sendiri sebagai peserta. Hal yang membuat saya jatuh cinta padanya adalah keindahan diksi dalam tulisannya. Seolah saya dibawa terbang menuju negeri fantasi. Menggugah rasa syahdu, rindu yang berwarna-warni. Ada manis yang enggan ku lepas, ada rintik yang enggan ku sudahi. Akhirnya hatiku memilih dia Sang Penjaga Hati. Hingga kini jalinan rasa itu terpintal dalam riang dan sendu. Memadu dalam satu kata sahabat" ujar Bu Widya memperkenalkan Ibu Maydearly

"Sahabat adalah kata sederhana yang acap kali merapal makna dalam jiwa. Pada sahabat kerap kita terbangkan kepingan kisah yang tersusun rapi. Sahabat adalah ia yang paling mengerti hati kita dalam lara nan pekat, meski kerap kita tancapkan luka, sang sahabat akan membalas dengan seribu pelukan. Terkadang dalam hidup ada robekan paling tidak sopan yang menenggelamkan kita dalam tangisan, namun seorang sahabat membawa kita tertatih berjalan dan mengambil sisa tawa untuk masa depan. Menguatkan lewat doa dan menggenggam dengan Bismillah" Ibu Maydearly pun membalas Ibu Widya bak gayung bersambut. 

Ahhh...., aku tak tahan lagi, diksi-diksi itu membuat hatiku jedag-jedug. Pantas saja seseorang bisa bucin hanya karena rayuan. Nah. shabat Periang ingin membuat seseorang jatuh cinta? Dong ayo berguru diksi dan seni bahasa pada ahlinya! Tapi sebelum lanjut ke sesi materi, intip profil narasumber, yuk!

Narasumber kali ini luar biasa, kan? Nah, lanjut sesi materi, yuk Periang!


Apa Itu Diksi?

Diksi berasal dari bahasa Latin: dictionem. Kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi diction Kata kerja ini berarti pilihan kata. Maksudnya, pilihan kata untuk menuliskan sesuatu secara ekspresif. Sehingga tulisan tersebut memiliki ruh dan karakter kuat, mampu menggetarkan atau mempermainkan pembacanya.

Dalam sejarah bahasa, Aristoteles yang merupakan filsuf dan ilmuwan Yunani  memperkenalkan diksi sebagai sarana menulis indah dan berbobot. Gagasannya itu ia sebut diksi puitis yang ia tulis dalam "Poetics", salah satu karyanya. Seseorang akan mampu menulis indah, khususnya puisi, harus memiliki kekayaan yang melimpah: diksi puitis. Gagasan Aristoteles dikembangkan fungsinya, bahwa diksi tidak hanya diperlukan bagi penyair menulis puisi, tapi juga bagi para sastrawan yang menulis prosa dengan berbagai genre-nya.

Salah satu pujangga dunia yang karya-karyanya sarat diksi nan elok adalah William Shakesphere. Ia dikenal sebagai sastrawan yang sangat piawai dalam menyajikan diksi melalui naskah drama. Dan ia menjadi mahaguru bagi siapa saja yang berminat menuliskan romantisme dipadu tragedi. Diksi Shakespeare relevan untuk menulis karya yang bersifat realita maupun metafora. Gaya penyajiannya sangat komunikatif, tak lekang digilas zaman.



Mengapa Diksi Begitu penting?

Menuru Ibu Maydearly, sebuah diksi penting sebab banyak keindahan atas sebuah kata yang tak tereja oleh bibir.  Diksi bak pijar bintang di angkasa yang menunjukan dirinya dengan kilauan, mempesona dan tak membosankan.
 

Jurus Jitu Mengembangkan Diksi yang Menarik

Menurut Ibu Maydearly, terkadang banyak penulis yang merasa takut dalam memulai sebuah tulisan, terkadang lidah kita merasa kelu untuk menulis sesuatu yang menakjubkan. Ada keraguan yang dibungkam sebelum diterjemahkan dalam bahasa. Apakah mungkin saya bisa menulis sebuah bahasa yang indah? Merasa takut tulisannya terdengar garing ketika dibaca? Nah, untuk mengatasi hal tersebut, narasumber memberikan lima jurus jitu yang melibatkan lima macam panca indera kita yaitu: 
  • Sense of Touch, adalah menulis dengan melibatkan indera peraba. indra peraba dapat digunakan untuk memperinci dengan apik tekstur permukaan benda, atau apapun. Penggunaan indra peraba ini sangat cocok untuk menggambarkan detail suatu permukaan, gesekan, tentang apa yg kita rasakan pada kulit. Aplikasi indra peraba ini juga sangat tepat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak terlihat, seperti angin misalnya. Atau, cocok juga diterapkan untuk sesuatu yang kita rasakan dengan menyentuhnya, atau tidak dengan menyentuhnya. 
            Contoh:
            "Pada pori-pori angin yang dingin, aku 
             pernah mengeja rindu yang datang tanpa 
             permisi".
  • Sense of Smell, adalah menulis dengan melibatkan indra penciuman hal ini akan membuat tulisan kita lebih beraroma. Tehnik ini akan lebih dahsyat jika dipadukan dengan indra penglihatan. 
            Contoh:
            "Di kepalaku wajahmu masih menjadi 
            prasasti, dan aroma badanmu selalu ku
            gantungkan dilangit harapan".
  • Sense of Taste, adalah menulis dengan melibatkan indra perasa. Merasakan setiap energi yang ada di sekitar kita. Penggunaan indra perasa sangat ampuh untuk menggambarkan rasa suatu makanan, atau sesuatu yg tercecap di lidah. 
            Contoh:
            "Ku kecup rasa pekat secangkir kopi di
            tangan kananku, sembari ku genggam HP 
            di tangan  kiriku. Telah terkubur denga
            bijaksana, dirimu beserta centang biru, 
            diriku bersama centang satu". 
  • Sense of Sight, adalah menulis dengan melibatkan indra penglihatan memiliki Prinsip “show, don’t tell". Selalu ingat, dalam menulis, cobalah menunjukkan kepada pembaca (dan tidak sekadar menceritakan semata). Buatlah pembaca seolah-olah bisa “melihat” apa yang tengah kita ceritakan. Buat mereka seolah bisa menonton dan membayangkannya.  Prinsip utama dan manjur dalam hal ini adalah detail. Tulislah apa warnanya, bagaimana bentuknya, ukurannya, umurnya, kondisinya. 
            Contoh: 
            "Derit daun pintu mencekik udara ditengah 
            keheningan, membuatku tersadar jika 
            kamu hanya sebagai lamunan".
  • Sense of hearing, adalah menulis dengan melibatkan energi yang kita dengar. Begitu banyak suara di sekitar kita. Belajarlah untuk menangkapnya. Bagaimana? Dengarlah, lalu tuliskan. Mungkin, inilah sebab mengapa banyak penulis sukses yang kadang menanti hening untuk menulis. Bisa jadi mereka ingin menyimak suara-suara. Sebuah tulisan yang ditulis dengan indra pendengaran akan terasa lebih berbunyi, lebih bersuara. Selain itu, penulis juga bisa berkreasi dengan membuat hal-hal yang biasanya tak terdengar menjadi terdengar.  
            Contoh:
            "Derum kejahatan yang mendekat terasa 
             begitu kencang. Udara hening, tetapi 
             terasa berat oleh jerit keputusasaan yang 
             dikumandangkan bebatuan, sebuah 
             keputusan yang menghakimiku untuk 
             tak lagi merinduimu".

Diakhir sesi materi, Ibu Maydearly memotivasi dengan mengatakan,

"Acap kali dalam menulis kita hanya melibatkan otak kita sebagai muara untuk berpikir tanpa kita dengar, tanpa kita rasa, tanpa kita raba, jika terkadang sesuatu di pelupuk mata bisa menjadi rongga untuk mencumbu tulisan kita"

"Did you know a true writes is someone that never feeling down?

"Seberapa sulit hal yang dihadapi, she's never give up. Ia sama sekali tak putus asa, selalu berusaha mencoba dan terus mencoba. Setelah mencoba, kita akan yakin, setelah yakin Pasti Bisa".

"Seberapa sulit ia menata perasaan nya, she's always create a good idea. Ia selalu menumbuhkan ide- ide baru".

Nah sahabat Periang, sama seperti masakan yang terasa hambar tanpa garam dan bumbu penyedap lainnya, maka suatu karya tulis (khusus fiksi, karena untuk yang nonfiksi tentunya harus menggunakan bahasa baku) kurang nampol tanpa diksi. So, dong ayo belajar diksi dan seni bahasa dengan riang!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tekhnik Promosi Buku yang Mumpuni

Guru Blogger vs Hegemoni sang Gubernur

Majalah Suara Guru, Eksistensi Guru Indonesia