Belajar Menulis Fiksi, in Action!
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI
Gelombang : 28
Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh.
Salam sehat dan bahagia sahabat Periang (Pembelajar Riang).
Suara rintik hujan di luar terdengar samar. Angin menyeruak lewat kisi-kisi jendela kamarku, membawa dingin yang menusuk kulit. Refleks ku rapatkan sweater hitam burik yang membungkus tubuhku. Ku lirik dua putri kecilku yang tertidur lelap di sampingku dan entah mimpi apa seulas senyum tersungging di bibir si bungsu.
Tanganku menjulur meraih HP di atas meja kecil di samping dipan dan langsung menekan tombol powernya.
"Haaah.. " Mataku melebar menatap jam di layar HP yang menunjukkan pukul 8.20 malam.
"Astaga, aku telat lagi nih, kelas pasti sudah dimulai" gumamku.
Dengan lincah jemariku membuka chat WAG KBMN PGRI 28. Benar saja, kelas belajar sudah di mulai, serentetan chat-chat berebut memenuhi layar android kesayanganku.
Waktu berlalu begitu cepat, serasa baru kemaren aku mendaftar sebagai peserta pelatihan menulis yang diselenggarakan PGRI ini, eh sekarang tahu-tahunya sudah memasuki pertemuan ke 10. Pertemuan malam ini mengangkat tema "Kiat Menulis Cerita Fiksi". Pada pertemuan kali ini kami diajak melanglang buana ke dunia imajinasi, mengeksplor daya hayal dan memadunya dengan kalimat-kalimat hiperbolik.
"Assalamualaikum. Salam sejahtera untuk kita semua. Salam Literasi. Puji dan syukur semoga selalu dipanjatkan kepada Allah SWT, Tuhan YME. Bapak Ibu guru yang hebat di nusantara, malam ini akan menjadi malam yang luar biasa dengan materi yang mengasyikkan" chat pembuka dari Pak Bambag Purwanto yang akrab dipanggil Mr. Bams.
Yach, malam ini rupanya Mr. Bams lah yang bertugas sebagai pemandu kelas belajar.
"Kita akan sambut narasumber pada malam ini, Bapak Sudomo, S.Pt yang biasa kita sapa Mazmo. Apakah Mazmo sudah berada di ruangan maya ini ?" Lanjut Mr Bams
"InsyaAllah siap, Mr Bams" balas Mazmo
"Nah, silahkan disimak dulu profile narasumber kita pada pertemuan kali ini" ujar Mr Bams sambil membagikan sebuah link https://s.id/ProfilSudomoSPt"
Aku pun langsug mengklik link yang di-share di WAG. Luar biasa. Ada yang unik dengan narasumber pada malam ini, bertitel sarjana pertanian, akrab dengan rumus fisika tapi mahir memilah diksi dan merangkai kalimat indah menjadi romansa.
"Malam ini saya akan berbagi dengan menggunakan alur MERDEKA, yaitu Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, dan Aksi Nyata" ujar Mazmo.
Mendengar alur merdeka, sejenak ingatanku mengembara ke masa-masa mengikuti Pendidikan Guru Penggerak. LMS, vicon, lokakarya dan kesibukan yang dulunya dikeluhkan sekarang malah dirindukan
" Yang pertama, mulai dari Diri. Pada alur ini, saya ingin kita bisa berbagi tentang pengalaman Bapak/Ibu dalam menulis cerita fiksi. Bapak/Ibu bisa mengirimkan cerita singkat terkait pengalaman. Bisa pengalaman mengalami kendala memulai menulis cerita fiksi. Bisa juga tantangan yang dihadapi saat menulis cerita fiksi" chat dari Mazmo membuyarkan lamunanku.
Sejenak aku berpikir akan menuliskan apa. Belum sempat ku ketikkan ide yang terlintas di kepalaku, aku dikejutkan oleh tangisan si Bungsu.
"Huaaaa... hiks...hiks..huuu." si bungsu menangis dalam tidurnya. Tangisannya memecah kesunyian malam. Dengan segera ku lepas HP dan ku rebahkan badan di sampingnya sambil menepuk-nepuk badannya pelan, membujuknya untuk kembali tidur. Lirih ku dendangkan lagu pengantar tidur, berharap si bungsu segera terlelap.
Aku berdiri di lorong gelap. Segerombolan pemuda melewatiku sambil berceloteh bising. Dua orang di antara mereka menoleh acuh tak acuh ke arah ku. Dan mereka pun berlalu tampa menghiraukanku. Perlahan suara-suara itu menghilang. Dalam gulita aku menggigil sendirian. Mendadak bulu kudukku meremang. Terdengar suara di kejauhan. Semakin lama kian mendekat. Sosok hitam dengan jubah menyapu tanah berdiri di depanku, aku membeku. Sosok itu semakin dekat, selangkah, dua langkah...
"Tidaaaakkk...."
Aku terjaga dari tidurku. Keringat sebesar biji jagung menetes deras di dahiku.
"Astagfirullah, aku mimpi buruk"
Ku ambil Hp dan melihat jam di HP-ku sudah menunjukkan pukul 3.30 dini hari. Ku lirik dua gadis kecilku yang masih lelap dibuai mimpi. Perasaanku terasa tak tenang masih terbawa mimpi tadi. Terlintas di ingatanku apa yang disampaikan ustadz Musa pada kajian minggu kemaren,
"Sholat adalah obat bagi jiwa yang hampa, pikiran yang bimbang dan hati yang terluka"
Aku pun segera bangkit dari pembaringan dan perlahan ku seret kakiku mengambil air wudhu.
Selesai sholat, perasaanku menjadi tenang. Ku buka kembali chat di WAG KBMN PGRI 28 dan ku putuskan untuk membuat catatan kecil pembelajaran pada pertemuan kali ini,
- Fiksimini yaitu fiksi singkat yang hanya terdiri dari beberapa kata saja. contoh fiksimini yang terkenal "For sale: baby shoes, never worn" oleh Ernest Hemingway
- Flash fiction yaitu cerita kilat dengan kekhususan jumlah kata. Biasanya mengandung plot twist.
- Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Contoh plot twist dari cerita Harry, seorang anak yang berjuang melawan penyihir jahat demi kedamaian dunia.
- Tips membuat cerita fiksi yaitu menumbuhkan niat, menentukan ide dan genre yang disukai dan kuasai, membaca karya fiksi orang lain, membuat kerangka (outline) dengan tujuan agar tulisan tetap berada di jalurnya, dan mulailah menulis kemudian menyelesaikannya.
- Cara membuat outline : Kerangka disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi, menentukan tema agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksi kita, membuat premis sesuai tema, menentukan uraian alur/plot berdasarkan unsur-unsurnya, menentukan penokohan kuat berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik, menentukan latar/setting dengan menunjukkan sisi eksotis dan detail, memilih sudut pandang penceritaan yang unik
- Langka-langkah membangun plot/alur adalah tentukan dulu jenis alur/plot yang ingin digunakan kemudian pahami unsur-unsur alur/plot.
Tepat saat catatanku selesai, azan subuh terdengar berkumandang dari speaker masjid yang letaknya tak terlalu jauh dari rumahku, bersahut-sahutan dengan azan dari masjid kampung sebelah membentuk harmoni indah, sangat indah jika manusia menyadarinya. Hanya saja, sepertinya hawa dingin merayu manusia untuk tetap meringkuk di bawah selimut. Sungguh aneh memang, telinga kita begitu sensitif saat mendengar nada dering HP, tapi seolah tuli saat mendengar panggilan azan. Astagfirullohaladzim. Aku bergegas menutup laptop dan bersiap menghadap Rabb-ku.
---☆☆☆---

Ngikut kelasx telas,tapi feeling fiksix mantaaap bu..👍
BalasHapusTerima kasih mik.. GWS.
Hapus