Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan. Penting!!!
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI
Gelombang : 28
Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh.
Salam sehat dan bahagia sahabat Periang (Pembelajar Riang).
Yups, kalimat pembuka dari Ibu Helwiyah, S.Pd. M.M yang bertugas sebagai moderator pada kelas belajar malam ini makjleb, mengena di hati. Belum sempurna rasanya seorang penulis jika belum berhasil menerbitkan buku. Buku ibarat mahkota bagi seorang penulis. Sebuah mahkota biasanya didesain indah, berhiaskan batu permata dan bertahtakan berlian sehingga memukau siapa pun yang memandang. Begitu juga dengan buku, sudah selayaknya didesain seindah mungkin, menggunakan tata bahasa yang menarik dan ejaan yang benar sehingga enak untuk dibaca. Kan tidak lucu jika buku yang harusnya merupakan prestise tersendiri bagi penulisnya ternyata memiliki banyak typo dan tata bahasa amburadul.
Nah, karena itulah sebelum mempublikasikan suatu tulisan perlu melakukan pemeriksaan tulisan terlebih dahulu. Pemeriksaan inilah yang dikenal dengan istilah proofreading. Bersama narasumber Bapak Susanto, S.Pd. yang akrab dipanggil Pak DSus, dengan tema "Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan", kelas belajar kali ini mengupas tuntas mengenai proofreading. Tapi sebelum lanjut ke materi, intip profil narasumber kita kali ini, yuk! https://blogsusanto.com/
Dari Menulis Sampai Publikasi
- Drafting. Pada tahap ini, ide-ide diubah menjadi kalimat-kalimat dan disusun menjadi rangkaian naskah.
- Proofreading. Pada tahapan ini, dilakukan pemeriksaan konten, tata bahasa dan kosa kata.
- Redrafting. Pada tahap ini, dilakukan penulisan ulang teks dengan membuat perubahan yang diperlukan berdasarkan hasil proofreading.
Mengenal Proofreading
Proofreading adalah membaca ulang draft awal suatu tulisan untuk memeriksa apakah ada kesalahan pada tulisan baik itu kesalahan ejaan, struktur kalimat maupun penggunaan tanda baca. Proofreading sangat berguna untuk meminimalisir kesalahan pada saat kita menulis di suatu media yang akan dipublikasikan, misalnya akan dipublikasikan di blog atau akan dibukukan. Karena itu, proofreading merupakan tahapan penulisan yang sebaiknya tidak dilewatkan, terutama jika tulisan tersebut akan dipublikasikan kepada masyarakat umum.
Sebagaimana profesi lainnya yang bekerja dengan alat dan perlengkapan tertentu, seorang proofreader juga bekerja dengan alatnya sendiri. Alatnya apa? Tentu saja alatnya adalah KBBI dan PUEBI yang sejak 16 Agustus 2022 diganti dengan EYD. Dengan mengacu pada EYD seorang proofreader membetulkan ejaan dan tanda baca. Selain itu seorang proofreader juga harus bisa memastikan bahwa tulisan tersebut bisa diterima logika dan dipahami.
Beberapa hal yang biasanya menjadi perhatian saat melakukan proofreading yaitu "Apakah sebuah kalimat efektif atau tidak?", "Susunannya sudah tepat atau belum?" dan "Substansi sebuah tulisan dapat dipahami oleh pembaca atau tidak?"
Bagaimana Melakukan Proofreading?
Berbaris-baris dahulu,
memanjat dinding kemudian,
nulis-nulis saja dahulu,
lakukan proofreading belakangan
Dalam pantun di atas, Pak DSus menekankan bahwa proofreading dilakukan setelah selesai menulis, bukan ketika sedang menulis. Hal tersebut dimaksudkan supaya tidak memutus aliran ide saat menulis.
Menurut Pak DSus, setelah tulisan "jadi", selanjutnya dilakukan swasunting (self editing). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan saat swasunting (self editing) antara lain:
- Endapkan tulisan selama beberapa saat. Hal ini dimaksudkan untuk mencari suasana psikologis yang berbeda, jadi kita bisa melihat tulisan dari feel yang berbeda.
- Meminta teman membaca tulisan kita. Dua kepala lebih baik daripada satu kepala. Dengan meminta orang lain untuk membaca tulisan kita, diharapkan dapat menemukan kesalahan atau mungkin sudut pandang yang berbeda mengenai tulisan.
- Meminta seorang proofreader. Dengan bantuan seorang proofreader profesional proses proofreading akan lebih mudah, tapi mungkin tidak gratis.
- Menggunakan aplikasi atau editing tools. Beberapa aplikasi yang bisa digunakan untuk proofreading adalah Spellchecker.net Paperrater.com, Grammarly.com dan bisa juga dengan memanfaatkan tools pada google doc.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada proses proofreading antara lain:
- Merevisi draft awal teks. Membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan, atau menghapus seluruh bagian.
- Merevisi penggunaan bahasa, kata, frasa, dan kalimat serta susunan paragraf untuk meningkatkan aliran teks.
- Memoles kalimat untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Memperbaiki kalimat kalimat yang ambigu.
- Mengecek ejaan. Ejaan yang kita tulis harus merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit.
- Perhatikan detail. Proofreading adalah jenis membaca yang berbeda. Kita harus memperhatikan setiap huruf, setiap tanda dan setiap spasi.
- Membaca dengan lantang. Mendengar kata-kata akan membantu mendengar kesalahan yang tidak dilihat mata.
- Baca perlahan. Tulisan nonfiksi yang padat dan bersifat tekhnis akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengoreksi daripada yang lainnya.
- Beristirahat dan berbaik hati pada diri sendiri. Proofreading membutuhkan fokus yang intens, dan sulit untuk mempertahankan fokus dalam jangka waktu yang lama
Jadi sahabat Periang, menulis sajalah dulu, biarkan ide-ide mengalir seperti air. Tapi setelah semua ide tertuang, jangan lupa melakukan proofreading pada tulisan yang dibuat, supaya kualitas konten tetap terjaga.



Semangat menerbitkan buku💪🏻💪🏻💪🏻
BalasHapusAyooo buu...bisaaaa
BalasHapus